MPM.MUHAMMADIYAH.OR.ID, KEBUMEN — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Lampung mulai mematangkan persiapan sebagai tuan rumah Jambore Nasional (Jamnas) II Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) yang dijadwalkan berlangsung pada 23–25 Juli 2027.
Persiapan tersebut dilakukan melalui kunjungan silaturahmi dan studi tiru ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen, Jawa Tengah, Ahad (1/11).
Ketua MPM PWM Lampung, Edi Waluyo atau Gus Wal, bersama enam orang delegasi. Mereka diterima Ketua PDM Kebumen Joko Purnomo beserta jajaran, didampingi Ketua Kornas JATAM Wahyudi Nasution dan sejumlah panitia Jamnas I dan II.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Lampung mempelajari berbagai aspek penyelenggaraan, mulai dari pembentukan kepanitiaan, pengelolaan anggaran, dukungan pemerintah, sponsorship, pelayanan peserta, hingga pelaksanaan Expo dan Bazar.
“Kami datang ke Kebumen bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi ingin belajar langsung dari pengalaman penyelenggaraan Jamnas I. Banyak hal yang perlu kami persiapkan, mulai dari konsolidasi organisasi, kepanitiaan, dukungan berbagai pihak, hingga bagaimana kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi petani,” ujarnya.
Ia menegaskan, MPM PWM Lampung ingin menjadikan Jamnas II JATAM sebagai momentum memperkuat gerakan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam membangun kemandirian ekonomi petani.
Menurutnya keberhasilan Jamnas tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta, kemeriahan acara, atau kelancaran seremoni. Hal yang lebih penting adalah adanya program dan kelembagaan yang dapat terus berjalan setelah kegiatan berakhir.
“Kami berharap Jamnas II di Lampung tidak hanya sukses sebagai agenda nasional, tetapi juga meninggalkan warisan yang konkret. Jika Kebumen memiliki Mentari-1 sebagai wakaf intelektual varietas padi, Lampung ingin mendorong penguatan dan peluncuran kelembagaan ekonomi petani JATAM,” katanya.
Gus Wal menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan berskala nasional membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, MPM PWM Lampung akan mendorong konsolidasi dengan seluruh unsur Persyarikatan, termasuk majelis, lembaga, organisasi otonom (Ortom), dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Lebih lanjut bahwa, Jamnas merupakan agenda nasional Muhammadiyah yang membutuhkan dukungan bersama, meskipun secara kelembagaan berada dalam koordinasi MPM.
“Kami ingin membangun semangat bahwa Jamnas ini bukan hanya kegiatan MPM. Ini merupakan agenda Persyarikatan yang harus disukseskan bersama. Setiap unsur dapat mengambil peran sesuai kapasitas dan potensinya,” ujarnya.
Pengalaman Kebumen menunjukkan bahwa koordinasi sejak awal menjadi salah satu faktor penentu kelancaran kegiatan. Pelibatan generasi muda Muhammadiyah dalam pelayanan peserta serta pengelolaan Expo dan Bazar juga menjadi praktik baik yang dapat dikembangkan di Lampung.
Menurut Edi, persiapan menuju Juli 2027 harus dilakukan secara bertahap dan terukur. Konsolidasi organisasi, pembentukan tim kerja, pemetaan potensi daerah, penggalangan dukungan, serta perumusan program unggulan perlu menjadi perhatian sejak awal.
“Kunjungan ke Kebumen menjadi salah satu tahapan penting dalam proses tersebut. MPM PWM Lampung berharap pengalaman penyelenggaraan Jamnas I dapat menjadi pijakan untuk menghadirkan Jamnas II yang lebih terencana, produktif, dan berdampak” ujarnya.
Ia berharap, estafet JATAM dari Kebumen ke Lampung tidak hanya melanjutkan tradisi jambore nasional, tetapi juga memperkuat gerakan ekonomi petani Muhammadiyah menuju kemandirian dan kesejahteraan.





