Sabtu, 3 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muhammadiyah Konsolidasikan Petani Muda untuk Regenerasi Pertanian Indonesia

Oleh adminMPM • • 2 Menit Min
Muhammadiyah Konsolidasikan Petani Muda untuk Regenerasi Pertanian Indonesia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Muhammadiyah mendorong konsolidasi petani untuk memperkuat kemandirian masyarakat sekaligus mendukung pembangunan bangsa. Upaya tersebut dilakukan melalui konsolidasi petani agar tidak hanya memiliki kemandirian dalam mengembangkan sektor pertanian, tetapi juga memperoleh ruang untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, M. Nurul Yamin pada Kamis (24/9) menjelaskan, jumlah petani yang tergabung dalam gerakan tersebut memang belum signifikan jika dibandingkan dengan jumlah petani di Indonesia yang mencapai jutaan orang.
Yamin menambahkan, kemandirian petani perlu mendapat dukungan dari organisasi sosial keagamaan seperti Muhammadiyah.

“Muhammadiyah mencoba mengkonsolidasikan petani-petani milenial yang muda-muda yang sudah berhasil untuk berbagi inspirasi, berbagi pengalaman, sehingga apa yang telah mereka lakukan itu menjadi motivasi pada teman-teman generasi muda lainnya,” katanya.

Muhammadiyah, lanjutnya, berupaya mengonsolidasikan petani sebagai salah satu entitas masyarakat yang memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa. Konsolidasi itu diarahkan agar petani tidak sekadar menjadi objek politik atau kepentingan tertentu, tetapi dapat tumbuh dan mengembangkan kemanfaatan sektor pertanian secara mandiri.

Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah regenerasi petani karena sebagian besar petani yang tergabung dalam Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) berada pada kategori usia lanjut. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri agar keberlanjutan sektor pertanian dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Muhammadiyah mencoba mengonsolidasikan petani milenial yang telah berhasil mengembangkan usaha pertanian. Para petani muda tersebut didorong untuk berbagi inspirasi dan pengalaman sehingga kiprah mereka dapat menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya.

Upaya regenerasi juga menyasar mahasiswa pertanian di berbagai daerah, khususnya mahasiswa di perguruan tinggi Muhammadiyah. Dalam refleksi peringatan Hari Tani Nasional, Muhammadiyah menampilkan petani-petani milenial yang telah menunjukkan hasil dan kiprah positif di bidang pertanian sebagai inspirasi bagi generasi muda.

Selain persoalan regenerasi, sektor pertanian menghadapi tantangan eksternal seperti perubahan iklim dan berkurangnya lahan pertanian. Kondisi kekeringan yang terjadi saat ini, misalnya, menuntut penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan pertanian di lahan kering serta meningkatkan efisiensi penggunaan air.

Di tengah semakin terbatasnya lahan pertanian akibat pembangunan, optimalisasi lahan yang masih tersedia menjadi salah satu pilihan yang dapat dilakukan. Intensifikasi pertanian dapat diarahkan pada pemanfaatan lahan pekarangan warga untuk memenuhi kebutuhan pangan, sayuran, maupun kebutuhan keluarga lainnya.

“Itulah memang tantangan pertanian di Indonesia itu sangat kompleks. Baik eksternal dan alam, tetapi juga konsolidasi petani ini menjadi salah satu bagian untuk memandirikan dan memajukan pertanian. Sehingga nasib petani memerlukan afirmasi, afirmasi kebijakan,” katanya.

Muhammadiyah juga mendorong pengembangan program urban farming sebagai salah satu pendekatan menghadapi keterbatasan lahan di wilayah perkotaan. Selain pertanian perkotaan, pengembangan peternakan di lahan perkotaan juga dapat diarahkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan keluarga.

Menurutnya, kompleksitas persoalan pertanian membutuhkan konsolidasi petani sekaligus dukungan kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan kehidupan petani. “Nasib petani memerlukan afirmasi, afirmasi kebijakan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *