Selasa, 3 November 2026
ID EN AR
ID EN AR

Estafet Jamnas JATAM: Dari Kebumen untuk Lampung, Menguatkan Gerakan dan Memperluas Manfaat

Oleh adminMPM • • 6 Menit Min
Estafet Jamnas JATAM: Dari Kebumen untuk Lampung, Menguatkan Gerakan dan Memperluas Manfaat

Wahyudi Nasution (Anggota Divisi Pertanian MPM Pusat dan Ketua Kornas JATAM)

Pengalaman sukses penyelenggaraan Jambore Nasional (Jamnas) I Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) di Kebumen menjadi referensi penting bagi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Lampung dalam mempersiapkan Jamnas II JATAM yang direncanakan berlangsung pada 23–25 Juli 2027 di Lampung.

Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan silaturahmi dan studi tiru delegasi MPM PWM Lampung ke PDM Kebumen, Ahad siang, 1 November 2026. Rombongan yang dipimpin Ketua MPM PWM Lampung, Edi Waluyo atau yang akrab disapa Gus Wal, terdiri atas enam orang. Kunjungan dilakukan setelah mereka mengikuti Konsolidasi Nasional (Konsolnas) MPM di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta.

Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Ketua PDM Kebumen, H. Joko Purnomo, beserta jajaran pimpinan PDM Kebumen. Turut mendampingi dalam pertemuan tersebut Wahyudi Nasution, Ketua Kornas JATAM sekaligus Ketua Panitia Jamnas I dan II JATAM; Adib Nurhadi, Sekretaris Kornas JATAM; Ahsan Taqwim, Sekretaris Panitia Jamnas I dan II JATAM; serta beberapa Fastor MPM PP Muhammadiyah.

Kunjungan ini bukan sekadar ajang silaturahmi. Delegasi MPM PWM Lampung secara khusus ingin menggali pengalaman dan praktik baik penyelenggaraan Jamnas I JATAM yang berlangsung pada 19–21 September 2025 di Kebumen.

Menggali Kunci Sukses Jamnas I

Dalam pertemuan tersebut, H. Joko Purnomo berbagi banyak pengalaman mengenai proses persiapan hingga pelaksanaan Jamnas I JATAM. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan kegiatan berskala nasional seperti Jamnas adalah kekompakan dan soliditas kepanitiaan, baik panitia pusat maupun panitia lokal di daerah.

Perencanaan yang matang, pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, serta komunikasi dan koordinasi yang intensif menjadi fondasi penting. Dukungan pemerintah dan berbagai pihak juga perlu dibangun sejak tahap perencanaan, bukan baru didekati menjelang pelaksanaan kegiatan.

Delegasi MPM PWM Lampung menyimak dengan saksama berbagai aspek teknis yang disampaikan, mulai dari pengelolaan sekretariat, penyusunan anggaran, penggalangan dana, sponsorship, konsumsi, transportasi, pelayanan peserta melalui Liaison Officer (LO), pengelolaan Expo dan Bazar, hingga manajemen acara dan publikasi.

Salah satu praktik baik yang menarik perhatian adalah pelibatan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), termasuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), dalam pelayanan LO. Pelibatan ini tidak hanya membantu kelancaran pelayanan peserta, tetapi sekaligus menjadi ruang pembelajaran, pengaderan, dan pemberian peran nyata kepada generasi muda Muhammadiyah.

Expo dan Bazar: Kegiatan Harus Memberi Manfaat Nyata

Pengalaman lain yang mendapat perhatian adalah pengelolaan Expo dan Bazar. Seksi acara Jamnas I dinilai berhasil merancang dan mengemas berbagai kegiatan secara kreatif sehingga mampu menggerakkan masyarakat dari berbagai lapisan untuk datang dan meramaikan lokasi kegiatan.

Dampaknya tidak hanya terasa pada semarak acara. Para peserta Expo dan Bazar dari berbagai daerah juga memperoleh manfaat ekonomi yang nyata. Produk-produk yang mereka bawa mendapatkan respons pasar yang baik dan laris-manis. Mereka pun pulang dengan kesan positif karena memperoleh pengalaman sekaligus hasil penjualan yang menggembirakan.

Pengalaman ini memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan sebuah jambore nasional tidak semestinya hanya diukur dari kemeriahan seremoni, jumlah peserta, atau kelancaran acara utama. Lebih dari itu, kegiatan harus mampu menghadirkan manfaat konkret bagi para peserta, termasuk manfaat ekonomi dan terbukanya jejaring usaha.

Mentari-1: Warisan Monumental Jamnas I Kebumen

Salah satu tonggak penting Jamnas I JATAM di Kebumen adalah penyerahan wakaf intelektual varietas padi hasil pemuliaan Prof. Totok Agung Dwi Haryanto bersama tim dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto.

Momen tersebut berlangsung dalam pembukaan Jamnas I di kampus Universitas Muhammadiyah Gombong (Unimugo). Acara pembukaan dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Bupati Kebumen beserta jajaran pemerintah daerah, unsur Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sponsor, dan undangan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Haedar Nashir memberikan nama Mentari-1 untuk varietas padi yang diwakafkan kepada Muhammadiyah tersebut.

Dalam sambutannya mewakili MPM PP Muhammadiyah pada pertemuan silaturahmi di Kebumen, Wahyudi Nasution menyampaikan bahwa wakaf intelektual varietas padi Mentari-1 merupakan warisan monumental dari penyelenggaraan Jamnas I JATAM di Kebumen.

Karena itu, Mentari-1 tidak boleh berhenti sebagai seremoni atau sekadar kenangan dari sebuah jambore nasional. Sebaliknya, varietas padi tersebut harus terus dikembangkan agar menjadi kebanggaan petani dan seluruh warga Muhammadiyah, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kedaulatan pangan.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa sebuah kegiatan nasional seharusnya meninggalkan warisan yang berkelanjutan. Jamnas tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan para peserta kembali ke daerah masing-masing. Justru, nilai pentingnya terletak pada gerakan dan manfaat yang terus tumbuh setelah kegiatan selesai.

Event Satu Majelis, Tanggung Jawab Seluruh Persyarikatan

Dalam diskusi tersebut, mengemuka pula pentingnya membangun keterlibatan seluruh unsur Persyarikatan dalam penyelenggaraan sebuah event nasional Muhammadiyah.

Benar bahwa Jamnas JATAM merupakan agenda Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM). Namun, penyelenggaraan sebuah event nasional tidak semestinya hanya menjadi urusan majelis yang menjadi penyelenggara. Seluruh unsur Persyarikatan yang tergabung dalam UPP (Unit Pembantu Pimpinan), baik Majelis, Lembaga, maupun Organisasi Otonom (Ortom), serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), perlu dilibatkan dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Penyelenggaraan event nasional justru harus menjadi momentum konsolidasi, sinergi, dan penguatan kebersamaan seluruh unsur Persyarikatan, khususnya di daerah yang menjadi tuan rumah.

Dengan demikian, keberhasilan sebuah event nasional bukan hanya menjadi keberhasilan panitia atau majelis penyelenggara, melainkan keberhasilan Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan.

Event nasional boleh jadi merupakan agenda satu majelis, tetapi menyukseskannya adalah tanggung jawab dan kehormatan seluruh keluarga besar Persyarikatan di daerah tuan rumah.

Gus Wal dan Semangat Pengabdian

Sosok Edi Waluyo atau Gus Wal juga menjadi bagian menarik dalam pertemuan tersebut. Selain mengemban amanah sebagai Ketua MPM PWM Lampung, ia dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di bidang perdagangan hasil pertanian, khususnya sayuran. Ia juga merupakan Wakil Ketua PDM Pesawaran dan Wakil Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Lampung.

Pengalaman praktisnya dalam dunia usaha pertanian menjadi modal tersendiri dalam mengembangkan gerakan pemberdayaan petani. Semangat pengabdian itu juga mendapat dukungan dari istrinya, Bu Ida, yang dikenal aktif dalam kegiatan pemberdayaan dan setia mendampingi berbagai aktivitas serta perjalanan tugasnya.

Kunjungan ke Kebumen memperlihatkan kesungguhan MPM PWM Lampung untuk mempersiapkan Jamnas II melalui proses belajar, membangun jejaring, dan mengambil pelajaran langsung dari pengalaman penyelenggaraan sebelumnya.

Lampung dan Tonggak Monumental Berikutnya: Kelembagaan Ekonomi Petani

Jika Jamnas I di Kebumen meninggalkan warisan monumental berupa wakaf intelektual varietas padi Mentari-1, maka Jamnas II di Lampung diharapkan mampu menghadirkan tonggak monumental berikutnya, yakni penguatan dan peluncuran kelembagaan ekonomi petani JATAM.

Hal ini sejalan dengan tema Jamnas II, “Membangun Ekosistem Daulat Pangan”.

Kedaulatan pangan tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan produksi pertanian. Petani juga harus memiliki kelembagaan ekonomi yang kuat agar mampu mengonsolidasikan produksi, mengelola hasil panen, memperkuat posisi tawar, mengembangkan pengolahan, serta membangun akses pasar dan jaringan distribusi.

Dalam konteks inilah koperasi dan berbagai bentuk kelembagaan ekonomi petani menjadi bagian penting dari ekosistem kedaulatan pangan. Petani tidak boleh terus-menerus berada pada posisi lemah karena berjalan sendiri-sendiri. Mereka perlu berhimpun, bekerja sama, dan membangun kekuatan ekonomi secara berjamaah dari hulu hingga hilir.

Karena itu, Jamnas II di Lampung diharapkan tidak hanya menjadi pertemuan akbar keluarga besar JATAM dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi momentum konsolidasi dan penguatan gerakan ekonomi petani Muhammadiyah.

Pada akhirnya, seluruh ikhtiar tersebut harus bermuara pada satu tujuan utama: meningkatnya kesejahteraan petani.

Dari Kebumen Menuju Lampung: Melanjutkan Estafet Gerakan

Pertemuan silaturahmi dan studi tiru ini menjadi bagian penting dari proses persiapan Jamnas II JATAM. Pengalaman Kebumen memberikan banyak pelajaran, baik dalam aspek teknis penyelenggaraan maupun dalam membangun kolaborasi seluruh unsur Persyarikatan.

Apresiasi dan terima kasih patut disampaikan kepada H. Joko Purnomo beserta jajaran PDM Kebumen yang telah menerima delegasi MPM PWM Lampung dengan hangat dan berbagi pengalaman secara terbuka. Semangat berbagi pengalaman inilah yang perlu terus dirawat dalam gerakan Muhammadiyah.

Estafet Jamnas JATAM kini bergerak dari Kebumen menuju Lampung. Kebumen telah memberikan teladan melalui penyelenggaraan Jamnas I dan warisan monumental Mentari-1. Lampung memiliki kesempatan untuk melanjutkan capaian tersebut dengan membangun kelembagaan ekonomi petani sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan kedaulatan pangan.

“Dari Kebumen kita belajar. Di Lampung kita lanjutkan estafet perjuangan. Bersama JATAM, kita kuatkan jamaah, sejahterakan petani, dan wujudkan kedaulatan pangan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *