Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Pemberdayaan Komunitas Khusus (Kelompok Miskin Perkotaan)

a.            Komunitas Pemulung MARDIKO

TPST Piyungan menjadi sentral pembuangan sampah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul semenjak 1992 dan menjadi lokasi mata pencaharian baru bagi sekitar 600 pemulung yang bermukim maupun pendatang. Di lain sisi, pemulung tersebut bekerja dengan pendapatan tidak sebanding dengan tingkat resiko−terpapar limbah beracun, gas metan, sanitasi air tidak ada, ketersediaan air bersih sangat terbatas. Oleh karena itu, MPM PP Muhammadiyah membentuk dan menjalankan program pemberdayaan ke Komunitas Pemulung, Mardiko, yang berjumlah 454 anggota yang berasal dari Bantul, Gunungkidul, Kulonprogro, Yogyakarta, Grobogan, Magelang, Klaten, Wonogiri, Blora, Riau, Flores, dan sebagainya. 

Realisasi kegiatan pemberdayaan tersebut berfokus pada pembenahan dan peningkatan kesehatan pemulung melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dimanifestasikan dengan penyuluhan rutin tentang PHBS diiringi pengecekan kesehatan gratis yang bekerja sama dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyah (PTMA) dan RS. PKU Muhammadiyah. Saat pengutan internal Mardiko−Pertemuan rutin, Pengajian inspirasi, Pelatihan IT pengurus, Pembuatan ID Card atau pendataan anggota, Edukasi keuangan anggota, Edukasi tentang koperasi, MPM PP Muhammadiyah bersama Mardiko membangun fasilitas dan sarana akses air bersih, Padasan Mardiko, di dekat tumpukan sampah TPST Piyungan.

Bagian prospektif, MPM PP Muhammadiyah mulai merealisasikan program penguatan dan kemandirian ekonomi untuk para pemulung, Pengolahan Sampah Berbasis Komunitas, sebagai inisiasi pekerjaan alternative atas isu penutupan TPST Piyungan dalam waktu dekat. Program Pengolahan tersebut sedang berjalan. MPM PP Muhammadiyah juga melakukan advokasi ke berbagai stakeholder (Pemerintah daerah, NGO, kampus, pihak swasta) untuk menstimulasi perhatian eksternal terhadap nasib sekitar 600 pemulung dari berbagai aspek, seperti kesehatan, ekonomi, dan sosial jika penutupan TPST terjadi.

Bagian prospektif, MPM PP Muhammadiyah mulai merealisasikan program penguatan dan kemandirian ekonomi untuk para pemulung, Pengolahan Sampah Berbasis Komunitas, sebagai inisiasi pekerjaan alternative atas isu penutupan TPST Piyungan dalam waktu dekat. Program Pengolahan tersebut sedang berjalan. MPM PP Muhammadiyah juga melakukan advokasi ke berbagai stakeholder (Pemerintah daerah, NGO, kampus, pihak swasta) untuk menstimulasi perhatian eksternal terhadap nasib sekitar 600 pemulung dari berbagai aspek, seperti kesehatan, ekonomi, dan sosial jika penutupan TPST terjadi. 

b.            Komunitas Asongan Surya Mandiri

Pada tahun 2010 MPM PP Muhammadiyah mendapatkaan kabar di salah satu media bahwa 70% jajanan sekolah yang di jual atau di jajakan oleh pedagang asongan di Yogyakarta tidak sehat dan tidak aman bagi anak-anak sekolah. Maka ada inisiasi pemerintah ingin menutup dan tidak memberikan akses kepada pedangan asongan. Pada tahun 2010 MPM mengandeng pedang asongan yang berada di SD Keraton Yogyakarta yang bernama bu Siti Mufalikha dan membentuk kelompok bernama Asongan Surya Mandiri, dan sampai sekarang sudah menjadi kelompok besar dengan mengandeng beberaa SD seperti SD Puwodinignratan, SD Pakel, SD Ngupasan.

Pertemuan rutin adalah kegiatan yang dilakukan oleh anggota kelompok Asongan surya Mandiri setiap bulan nya, selain itu anggota kelompok juga rutin mengikuti pengajian 3 bulanan yang di adakan oleh MPM PP Muhammadiyah, kegiatan pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh MPM seperti makan yang halal, higienis dan baik itu seperti apa saja, dan berbagai kegiatan edukasi yang terkait dengan kebersihan , kehigienisan jajanan yang di jual untuk anak-anak sekolah.

Selama MPM mendampingin kelompok ini sudah banyak sekali manfaat yang di terima seperti

pelatihan pembuatan donat, kemudian wawasan tentang makana halal, higienis, dan makanana yang baik untuk anak-anak, keterampilan menulis di atas kayu ketika belajar di krebet, pengajian, kemudian di bidang kesehatan, anggota kelompok jadi mengerti bagaimana menjaga kesehatan mereka, kemudian fasilitas seperti gerobak yang diberikan oleh MPM. Dengan demikian konsumen tidak lagi meragukan produk dampingan.

c.             Komunitas IKM Sedyo Maju Ngoro-oro

Banyak kelompok usaha kecil mandiri di Indonesia, khususnya di Yogyakarta namun memiliki keterbatasan akses dan kemampuan mengembangkan produk-produk. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan untuk keluar dari keterbatasan itu.

MPM PP Muhammadiyah melakukan pilot pemberdayaan ke komunitas yang berjumlah 30 anggota inti (ibu-ibu rumah tangga) yang berlokasi di Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul yang berdiri semenjak tahun 2007. Fokus program pemberdayaa yaitu pengembangan usaha pengolahan aneka produk makanan dengan bahan baku yang tersedia di daerah tersebut antara lain criping talas, criping pisang, stik jagung, pangsit jagung, krupuk singkong, empon-empon instan (jahe, kunir, temulawak), kripik daun singkong, pathilo, kembang goyang dan kacang telur.  Awal pendampingan oleh MPM hingga sekarang kelompok Sedyo Maju merasakan manfaat dari segi ekonomi karena bahan baku dihasilkan anggota dan penduduk sekitar desa tersebut bias diolah dan dipasarkan dengan harga lebih tinggi.

d.            Komunitas IKM Pusaka Mulia Kokap

Kelompok Dampingan IKM Pusaka Mulia adalah salah satu dampingan MPM PP Muhammadiyah yang beralamatkan Dusun Tegiri I, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo dengan jumlah anggota dampingan sekitar 15 orang. Kelompok ini terbentuk pada tahun 2009 . IKM Pusaka Mulia dalam memproduksi gula kristal masih dengan proses manual,  proses produksi lama dengan tenaga kerja yang cukup banyak dan harga yang rendah karena melalui tengkulak. Ditambah lagi, mereka masih menggunakan sistem ijon, dimana pemilik modal memberikan pinjaman uang dan pengembalian dalam bentuk gula merah. Efek dari sistem ini adalah harga ditentukan oleh tengkulak dan biasanya setiap kilogramnya lebih rendah antara Rp 500 – Rp 1.000 dari harga yang seharusnya, masyarakat tinggal mengikuti saja penentuan harga oleh tengkulak tersebut dan masyarakat tidak berani menjual produk gula merah kepada orang atau pihak lain karena setiap produksi sudah menjadi jaminan pembayaran hutang.

Oleh karena itu, MPM PP Muhammadiyah terus berupaya untuk membantu IKM Pusaka Mulia dalam memproduksi agar lebih efektif dan efisien. Kegiatan yang didampingi oleh MPM PP Muhammadiyah adalah produksi gula, pertemuan rutin per minggu kelompok IKM Pusaka Mulia, pengajian, arisan dan pelatihan-pelatihan (packaging dll). Dengan adanya MPM PP Muhammadiyah, pola pikir masyarakat telah terbuka bahwa memperoleh pinjaman tanpa agunan tidak baik (rentenir) dan menyadari betapa besarnya bunga yang harus mereka tanggung kepada tengkulak gula. Selain itu, Kelompok Pusaka Mulia membuat komitmen yaitu setiap anggota  menyisihkan 5kg /minggu untuk dijual ke pasar di luar tengkulak. MPM PP Muhammadiyah dalam hal ini juga mengupayakan untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia, meningkatkan jaringan pemasaran Kelompok Pusaka Mulia sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan terlepas dari sistem ijon.

e.            Pemberian Bingisan Ramadan bagi Masyarakat Miskin Kota Terdampak Pandemi

Seperti yang telah diketahui, Pandemi covid-19 yang sedang berlangsung telah memberikan dampak negatif terhadap bidang ekonomi masyarakat. Banyak warga yang kehilangan mata pencaharian, kehilangan pendapatan, atau setidaknya berkurang pendapatannya. Daya beli masyarakat menajdi rendah dan kehidupan ekonomi berjalan lambat.

Dampak pandemi covid-19 begitu dalam dirasakan oleh masyarakat miskin kota. Mereka yang mengantungkan penghidupannya melalui transaksi jual-beli, buruh, jasa, dan seterusnya paling merasakan dampak pandemi covid-19. Berbeda dengan masyarakat di kampong-kampung, masyarakat miskin kota menjadi kelompok rentan yang perlu untuk diperhatikan nasib hidupnya selama berlangsungnya pandemi covid-19.

Melalui program jangka pendek, MPM PP Muhammadiyah melakukan kegiatan pemberdayaan dalam bentuk stimulasi bagi masyarakat miskin kota dengan manyalurkan Bingkisan Ramadan supaya mereka tetap bertahan di tengah terpaan pandemi covid-19. Pengadaan Bingkisan Ramadan ini bekerjasama dengan LazisMu dan dilakukan pada 2021 menjangkau atau dapat dirasakan 4432 orang yang berasal dari kelompok masyarakat miskin kota, seperti pedagang asongan, tukang becak, juru parkir, termasuk kelompok difabel.

f.             Tebar Qurban untuk Dampingan

Tebar Qurban merupakan salah bentuk stimulasi masyarakat terdampak pandemi covid-19 yang mengalami kesulitan ekonomi dan menyebabkan rendahnya konsumsi makanan bergizi. Keadaan tersebut mendorong MPM PP Muhammadiyah melakukan kegiatan jangka pendek berupa tebar qurban untuk dampingan dan masyarakat di daerah terluar, tertinggal dan terdepan (3T) pada momen Iduladha 2020-2021. Pelaksanaan tebar quran yang dilakukan oleh MPM PP Muhammadiyah yang berkolaborasi dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan donatur dilaksanakan di beberapa titik kelompok masyarakat seperti di dampingan difabel, IKM, komunitas pemulung, dan masyarakat di daerah 3T yaitu: Amanuban Timur-NTT, Sorong-Papua Barat, Berau-Kalimantan Timur, dll.