MPM PP Muhammadiyah Canangkan Gerakan Tutup Bumi

TIMOR TENGAH SELATAN, NTT — Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah mencanangkan Gerakan Tutup Bumi di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (6/11/2017). Gerakan Tutup Bumi ini ditandai dengan penanaman 800 pohon di lahan wakaf milik Panti Asuhan Muhammadiyah Mnelabesa.

Dijelaskan Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, Gerakan Tutup Bumi Hijau Lestari ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Muhammadiyah dalam melestarikan alam. Bibit pohon yang ditanam yaitu mahoni, trembesi, flamboyan dan mangga. “ Ini sekaligus sebagai upaya dalam mengatasi kekeringan yang terjadi di Desa Tli’u,” kata Yamin.

Gerakan Tutup Bumi Hijau Lestari ini dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dalam sambutannya, Haedar berharap kegiatan tanam 800 bibit pohon ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, khususnya dalam mengatasi persoalan kekeringan di Timor Tengah Selatan.

MPM Gandeng Lazismu Bangun Desa Wisata

WONOSOBO — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah menggandeng Lazismu membangun desa wisata di Dusun Pandansari, Desa Kauman, Kaliwiro, Wonosobo, Jawa Tengah. Rabu (9/8/2017), MPM PP Muhammadiyah melakukan peninjauan pengerjaan kandang.

Pengurus MPM PP Muhammadiyah, Syafii Latuconsina dan Nur Ardiyanto memberikan penyuluhan tentang budidaya buah dan kambing kepada kelompok binaan Dusun Pandansari, Desa Kauman, Kaliwiro, Wonosobo. Edukasi kepada warga binaan sebagai langkah MPM dalam rangka peningkatan mutu dan ekonomi warga,

“Dengan memberikan wawasan ternak tepat guna, nanti akan menambah pengahasilan mereka. Karena terkadang orang kampung jika beternak itu sekenanya, tidak dilandasi dengan perhitungan lainnya,” kata Nur Ardiyanto.

Sapi TPST Piyungan Harus Diisolasi Sebelum Dipotong

BANTUL– Koordinator Divisi Pertanian Terpadu Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Bambang Suwignyo menandaskan agar sapi-sapi yang digembalakan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan agar diisolasi sebelum dipotong untuk kurban. Minimal isolasi dilakukan selama 40 hari sebelum dijual atau dipotong.

Bambang Suwignyo mengemukakan hal itu pada rapat koordinasi MPM PP Muhammadiyah dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Piyungan, Sabtu (5/8/2017). Rapat yang dipimpin Ketua MPM PP Muhammadiyah, M Nurul Yamin membahas tentang pemberdayaan kelompok dampingan Pemulung Mardiko dan persiapan menghadapi Idul Qurban.

Lebih lanjut Bambang Suwignyo mengatakan sistem ternak di lokasi pembuangan sampah memang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sebab peternak tidak memberikan makanan rerumputan, melainkan sapi-sapi itu makan makanan sisa dari pembuangan sampah.

Pemulung Mardiko Ikuti Workshop Pengolahan Pangan

BANTUL — Komunitas pemulung Makaryo Adi Ngayogyokarto (Mardiko) mengikuti workshop pengolahan pangan yang diadakan Dinas Sosial Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (7/8/2017). Sebanyak 30 orang ibu-ibu anggota aktif Mardiko mengikuti workshop tersebut dan menerima bantuan alat untuk membuat pangan seperti mie ayam, pastel serta keripik pisang dari dinas sosial.

Maryono, ketua komunitas Mardiko mengatakan alat yang diberikan kepada peserta workshop berupa peralatan masak. Di antaranya, pemotong atau pencacah pisang serta penggiling mie. “Peserta pelatihan yang kami tunjuk adalah ibu-ibu anggota aktif Mardiko yang memiliki jiwa tanggung jawab yang besar, mau berinovasi serta memiliki keinginan untuk berwirausaha,” kata Maryono.

Sementara menurut Arfin, bagian pemberdayaan masyarakat Dinas Sosial Kabupaten Bantul, kegiatan ini adalah suatu wujud kepedulian pemerintah kabupaten kepada masyarakat miskin. Pemberian bantuan serta pelatihan ini merupakan kegiatan tahunan Dinas Sosial Kabupaten Bantul, di mana kegiatan ini dilaksanakan di berbagai tempat yang berbeda setiap tahunnya.

Fasilitator MPM PP Belajar Mengolah Empon-empon

WONOSARI — Fasilitator dan pengurus Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah belajar mengolah empon-empon dengan kelompok dampingan Sedyo Maju. Empat fasilitator yang belajar adalah Ririn, Nisa, Sanupal, Adi, sedang pengurus yang mendampingi yaitu Amir Panzuri, Muttaqien, Wuri Rahmawati, dan Adib Nurhadi.

Pelatihan yang dilaksanakan di rumah Kepala Desa Ngoro-oro, Sabtu (5/8/2017), mengolah empon empon jahe dan kunyit yang diolah menjadi minuman menyegarkan. “Tujuan belajar mengolah empon-empon ini untuk mengetahui proses pembuatan yang selanjutnya, ilmu tersebut akan ditularkan kepada dampingan MPM di Berau, Kalimantan Timur,” kata Ririn.

Dijelaskan Ririn, proses pelatihan, jahe dan kunyit yang masih utuh dicuci lalu dikupas kulitnya. Selanjutnya, keduanya diblender dan didiamkan sesaat agar ampasnya mengendap di bawah. Sehingga terpisah antara air dan ampas.

MPM PWM Aceh Silaturahmi ke MPM PP

YOGYAKARTA — Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPM PWM) Aceh melakukan silaturahim MPM PP Muhammadiyah di Jalan KH. Ahmad Dahlan, no 103, Ngampilan, Yogyakarta, Selasa (1/8/2017). Hadir dalam silaturahim tersebut Taufiq Abdul Rahim, ketua MPM PWM Aceh yang ditemani seorang anggotanya.

Kehadiran MPM PWM Aceh diterima Ketua Umum MPM PP Muhammadiyah, M Nurul Yamin dan Amir Panzuri (wakil Ketua MPM PP). Taufiq menceritakan dinamika pemberdayaan bukan hanya dirasakan di lingkup Pimpinan Pusat saja, melainkan turut dirasakan MPM PWM Aceh.

Pokok bahasan dalam silaturahim tersebut mengenai sinergitas program pemberdayaan yang runut dari Pimpinan Pusat sampai ke daerah. Sehingga kedepannya dapat mencapai hasil pemberdayaan yang memiliki dampak singnifik terhadap masyarakat atau umat.

MPM Membuat Kartu Identitas Dampingan

GUNUNGKIDUL — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah membuatkan Kartu Identitas Dampingan (KID). Kamis (3/8/2017) lalu, fasilitator MPM PP Muhammadiyah melakukan pengambilan foto anggota IKM Sedyo Maju di Balai Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Menurut Sarah Rifa’atul Mahmudah, fasilitator MPM PP Muhammadiyah, pembuatan KID ini dimaksudkan untuk merapikan data kelompok dampingan. Sebelumnya, pembuatan KID dilakukan pada kelompok dampingan Guyub Makmur, Difabel Ngaglik, dan kelompok Asongan Surya Mandiri.

“Pendataan yang dilakukan di IKM Sedyo Maju merupakan runtutan yang telah dilakukan sebelumnya. Sebelumnya telah dilakukan pada dampingan Guyub Makmur, Difabel Ngaglik, dan kelompok Asongan Surya Mandiri,” kata Sarah.

Silaturahim ke MPM PP, IMM Jatim akan Gelar Sekam

YOGYAKARTA — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah menerima kunjungan dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur (Jatim), Selasa (1/8/2017). Kunjungan ini untuk mematangkan dan koordinasi penyelenggaraan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (Sekam) di Probolingo, Jatim.

Kehadiran DPD IMM Jatim disambut dengan hangat M Sobar dan sejumlah fasilitator di Kantor MPM PP. Ketua Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat (SPM) DPD IMM Jatim, Dealro Zelasqi Mahadamayo menyampaikan kehadirannya untuk mengkoordinasikan pelaksanaan Sekam yang rencananya akan digelar pertengahan bulan September.

Lebih lanjut Dealro, mengatakan Sekam yang diadakan pertama kali di Jawa Timur merupakan sebuah hasil dari keresahan akan fenomena marginalisasi masyarakat di daerah. Selain itu, minimnya perhatian pemuda dalam menanggapi isu ketimpangan yang terjadi di lingkungannya.

“Selain itu, kita masih menemukan beberapa daerah di Jatim yang berada di bawah garis kemiskinan. Hal ini kemudian akan memunculkan permaslahan sosial,” kata Dealro Zelasqi Mahadamayo.

Sekam Pemberdayaan Masyarakat Regional Kalimantan

BANJARMASIN — Problem kebangsaan di negeri ini yang berada pada titik nadir adalah kesenjangan antara kaya dan miskin baik di perkotaan, perdesaan, maupun daerah terluar, terpencil dan tertinggal. Kesenjangan ini disebabkan oleh hal-hal yang bersifat struktural berupa kebijakan yang terkadang kurang berpihak kepada kelompok-kelompok miskin atau yang biasa disebut dhuafa mustadh’afin, dan pelaksanaannya yang masih diwarnai perilaku koruptif.

Tetapi juga faktor kultural masyarakat dan etos masyarakat itu sendiri yang masih memerlukan pendampingan dan pemberdayaan. Dalam konteks demikian maka pemberdayaan masyarakat dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan dan memerlukan nafas panjang. Bagi Muhammadiyah, aktifitas pemberdayaan bukan saja panggilan kebangsaan, tetapi lebih dari itu, juga mengemban misi kerisalahan dan kesejarahan. Sebagai tugas kerisalahan maka pemberdayaan masyarakat harus diregenerasikan secara terus menerus. Di sinilah kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat menemukan peran strategisnya.

Demikian dikatakan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah M. Nurul Yamin pada Pembukaan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Regional Kalimantan di Aula Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Kalimantan Selatan, Jumat (28/7/2017). Sekam yangakan berlangsung hingga Ahad (30/7/2017) diikuti 75 peserta utusan kader pemberdayaan wilayah se Kalimantan.

Fasilitor Diharapkan Jadi Motivator Kewirausahaan

BANJARMASIN — Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), H Sahbirin Noor mengharapkan agar fasilitator lulusan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (Sekam) dapat menjadi inspirator dan motivator dalam mengembangkan jiwa sosial dan kewirausahaan. Munculnya, wirausahawan baru diharapkan akan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gubernur Kalsel mengungkapkan hal tersebut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Sosial, Adi Santoso, S.Sos. M.Si pada pembukaan Training of Trainer Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalsel di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Jumat (28/7/2017). Sekam ini diikuti sebanyak 75 peserta yang berasal dari PWM se Kalimantan, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se Kalimantan Selatan.

Menurut Gubernur Kalsel, Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat pada dasarnya ingin mencetak fasilitator pemberdayaan masyarakat yang mumpuni, mempunyai keahlian dan ketrampilan untuk menciptakan kader-kader pemberdayaan masyarakat. Para peserta diharapkan tidak hanya menjadi fasilitator yang mampu menjadi koordinator dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Tetapi juga mampu menjadi inspirator dan motivator bagi warga Muhammadiyah dan anggota masyarakat lainnya untuk mengembangkan jiwa sosial dan kewirausahaan.