M Yamin Berbicara Keshalehan di TVRI Yogyakarta

YOGYAKARTA — Masyarakat umum tentu sudah akrab dengan istilah “shaleh”. Shaleh kerap kali dikaitkan dengan tolak ukur seseorang dalam beragama. Topik ini lah yang juga dibicarakan oleh Ketua Umum MPM PP Muhammadiyah, Dr. M Nurul Yamin dalam acara Gema Ramadhan di studio TVRI Yogyakarta, Senin (5/6/2017) sore.

Dalam tema mengenai Keshalehan Sosial dan Keshalehan Personal, Yamin menekankan bahwasannya keshalehan sosial tidak bisa dipisahkan dengan keshalehan personal. “Keshalehan personal adalah ibadah mahdhah seseorang atau hablu minallah. Sedangkan keshalehan sosial adalah ibadah ghairu mahdhah sebagai implementasi dari keshalehan personal tadi yang diwujudkan dengan cara bersosialnya atau habluminanas,” kata Yamin.

Menurut Yamin, orang shaleh secara personal tanpa shaleh secara sosial, dapat dikatakan sebagai pendusta agama. “Saat ini kita sering melihat di kehidupan, orang-orang yatim yang sebenarnya tidak yatim atau masih memiliki orangtua,” tambah Yamin.

Komunitas Tunarungu Belajar Alquran Bahasa Isyarat

MAGELANG — Divisi Disabilitas Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah menghadiri pelatihan membaca Alquran Bahasa Isyarat di Masjid Tanwir komplek Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang, Ahad pagi (4/6/2017). Puluhan difabel peserta pelatihan berasal dari Magelang Deaf Community.

Dijelaskan pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Magelang, Masfuri, pelatihan ini merupakan rangkaian agenda Ramadhan yang melibatkan kaum difabel. “Kegiatan yang melibatkan difabel ini sudah berlangsung selama tiga tahun terakhir,” kata Masfuri di Magelang.

Menurutnya, Muhammadiyah harus mulai melakukan pendampingan difabel termasuk pendampingan keagamaan maupun memfasilitasi pelatihan. “Tahun-tahun sebelumnya kita adakan buka bersama dengan mereka (komunitas difabel). Sekarang ini kita tambah belajar bersama membaca Alquran dengan bahasa isyarat, kami hanya sebatas memfasilitasi,” kata Masfuri.