Petani Kutai Kartanegara Dilatih Tingkatkan Produksi Padi

TENGGARONG — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah melatih petani di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur untuk meningkatkan produktivitas padi. Selama ini, Kutai Kartanegara yang menjadi lumbung beras di Kalimantan Timur masih memiliki potensi untuk ditingkatkan baik secara kualitas dan kuantitas.

Pelatihan pertanian terpadu dilakukan Ir Syafi’i Latuconsina kepada petani di Desa Separe 2 Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Rabu (24/5/2017). Pelatihan sengaja dilaksanakan di tengan sawah, sehingga Syafi’i bisa langsung memberikan contoh cara menanam padi yang baik sehingga bisa memberikan hasil maksimal.

Menurut Syafi’i, selama ini cara tanam padi petani kurang efisien, baik penggunaan bibit, pupuk, dan jarak tanam sehingga berbiaya tinggi dan hasil kurang maksimal. Syafi’i mencontohkan penggunaan bibit yang sampai tujuh butir itu terlalu banyak, idealnya cukup dua sampai tiga butir saja.

MPM Kaltim Bangun Gaharu Center

SAMARINDA — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur, merintis pembangunan Gaharu Center. Inisiasi Gaharu Center ditandai penanaman pohon gaharu di hutan dengan luas 20 hektare, Rabu (24/5/2017).

Penanaman pohon gaharu perdana dilakukan Ketua MPM PP Muhammadiyah M Nurul Yamin bersama Bupati Kutai Timur Ir. Ismunandar MT, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur, Encek UR Firgasi, SH serta Pimpinan Wilayah Muhammaditah Kalimantan Timur, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kutai Timur, Bontang, dan Samarinda.

Bupati Kutai Timur, Ismunandar menyatakan masyarakat Kutai Timur saat ini tidak bisa mengandalkan kehidupannya dengan menggali sumber daya alam (SDA), khususnya tambang. Karena itu, mulai sekarang harus dibangun budaya kehidupan baru yaitu budaya tanam.

Bupati Kutai Timur sangat mengapresiasi dan mendukung langkah gerakan pemberdayaan masyarakat melalui Gaharu Center. Penanaman pohon gaharu ini dinilainya sebagai komitmen Muhammadiyah terhadap persoalan kebangsaan yang tidak hanya terbatas bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial lainnya.

Enzim Mocaf Produk PDM Banjarnegara Banyak Keunggulan

YOGYAKARTA — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara, Jawa Tengah telah berhasil mengembangkan enzim organik untuk membuat mocaf. Banyak keunggulan enzim yang tebuat dari protein hewani dan tanaman yang mengandung glukosa.

“Saya sengaja merahasiakan bahan-bahan untuk membuat enzim. Sebab itu pesan dari dosen IPB (Institut Pertanian Bogor,red) yang memberikan resepnya,” kata Muhammad Muslich di sela-sela mengikuti Rapat Koordinasi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Ahad (21/5/2017).

Dijelaskan Muslich yang juga Wakil Ketua MPM PDM Banjarnegara ada lima keunggulan enzim buatannya. Pertama, enzim ini dapat menghilangkan racun pada mocaf. Kedua, menghilangkan asam sianida. Ketiga, menghilangkan rasa pahit. Keempat, mocaf yang dihasilkan lebih putih. Kelima, mocaf bisa bertahan sampai satu tahun tanpa ada kutu.

MPM dan CIQAL Susun Buku Panduan Kebencanaan Bagi Disabilitas

BANJARMASIN — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dan MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Selatan bekerjasama dengan Center for Improving Qualified Activities in Live of people with disabilities  (CIQAL) dan Independent Legal Aid Institute (ILAI) berencana membuat buku panduan dan metode pembelajaran pendidikan pengurangan resiko bagi penyandang disabilitas. Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banjarmasin.

“Kegiatan ini diawali dengan audiensi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Kedua institusi sangat mendukung program pendidikan kebencanaan dilakukan melalui sekolah, karena akan menjamin dapat terlaksana pada seluruh sekolah dan dapat dilakukan secara berkelanjutan,” kata Arni Surwanti, Koordinator Forum Penguatan Hak-hak Penyandang Disabilitas DIY di Banjarmasin, Jumat (19/5/2017).

Dalam waktu yang sama juga dilakukan audiensi dengan isteri Walikota Banjarmasin, Hj Siti Wasilah yang mempunyai kepedulian tinggi pada program disabilitas karena Banjarmasin sudah mencanangkan sebagai kota inklusi. Salah satu programnya, tentang kependudukan yaitu mencegah pernikahan dini, sex bebas dan masalah narkoba.

Buruh Migran Tulis Buku ‘Mengenal Sang Surya di Bumi Formosa’

TAIPEI — Sebanyak 25 buruh migran Indonesia yang berada di Taiwan berhasil menulis buku ‘Mengenal Sang Surya di Bumi Formosa.’ Sebelumnya, para penulis buku tidak mengenal Muhammadiyah. Namun berkat pendampingan rutin yang dilakukan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah buku tersebut dapat terbit.

Launching buku tersebut dilaksanakan di Aula Medical Taipei University, Ahad (14/5/2017) bersamaan dengan pelantikan pengurus baru Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Taiwan. Prolog buku tersebut ditulis Ketua Umum Pimpinan Puat Muhammadiyah Haedar Nasir dan epilog Agung Danarto. Buku yang diterbitkan Suara Muhammadiyah tersebut telah dicetak sebanyak 100 eksemplar.

Dijelaskan Ahmad Ma’ruf, Wakil Ketua MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, buku ini merupakan kumpulan tulisan buruh migran yang merangkum tentang berbagai pengalaman keruhanian, kisah perjuangan yang diikuti oleh peluh keringat warga Muhammadiyah di Taiwan. Buku tersebut juga dapat memberikan pelajaran tentang kelahiran dan harapan baru titik-titik pijak kosmopolitanisme Islam berkemajuan sekaligus internasionalisasi Muhammadiyah yang berwajah praksis dan kaya makna.

Moch Yamin : Pemulung Yatim Secara Sosial

YOGYAKARTA — Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah bekerjasama dengan LazisMu menggelar Workshop Pemberdayaan Komunitas Pemulung Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan di Gedung DPD RI DIY Kamis (4/5/2017). Workshop ini diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri dari unsur pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota, LSM, Perguruan Tinggi, Majelis, Lembaga dan Ortom Muhammadiyah serta anggota Komunitas Pemulung Mardiko.

Moch Nurul Yamin dalam sambutannya mengatakan bahwa pemberdayaan tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi berproses untuk membangun kesadaran kritis pada dampingan agar menjadi lebih baik lagi. Muhammadiyah hadir untuk mengatasi masalah orang yatim yang tidak hanya secara biologis, tapi dalam kehidupan sosial ekonomi, banyak dijumpai kelompok-kelompok yatim.

“Banyak kelompok masyarakat yang tidak hanya yatim secara ekonomi, tapi juga secara politik dan yatim secara akses sosial. Pemulung termasuk orang yatim secara sosial karena tidak tahu harus kemana mengadukan persoalannya,” kata Moch Nurul Yamin.

Lima Nelayan Silaturahmi ke Kantor MPM Jakarta

JAKARTA — Lima nelayan asal Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Tuban Jawa Timur, Selasa (2/5/2017), silaturahmi ke Kantor MPM PP Muhammadiyah Jakarta. Mereka adalah Sudarlin, Fairiz dan Agus Mulyono (Lamongan), dan Asad dan Topan (Tuban).

“Mereka mengaku datang khusus ke Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, untuk berterima kasih kepada MPM karena sudah mau memfasilitasi dan kembali menyemangati aspirasi mereka menghadapi permasalahan mereka terkait pelarangan Cantrang/Payang,” kata Dede Kurniawan, anggota Divisi Buruh Nelayan yang menerima kelima nelayan, Selasa (2/5/2017).

Mereka menggunakan bus Malam untuk bisa sampai ke Kantor MPM PP Muhammadiyah Jakarta. Pertemuan berlangsung sangat singkat, sekitar 40 menit. “Mereka kembali berkeluh kesah, setelah banyaknya gelombang protes, tetapi pemerintah masih belum melihat persoalan larangan Cantrang sebagai masalah. Sebagaimana diketahui Permen KP No.71 Tahun 2015 akan resmi diundangkan pada tanggal 1 Juli 2017 yang akan datang,” kata Dede.

Agus Mulyono, Ketua HNSI Lamongan, menuturkan setidaknya ada 80 persen komunitas nelayan yang terimbas dengan 1.350 armada. Di mana ada keterlibatan 100-130 ribu orang hari ini dilarang atau tidak bisa bekerja karena larangan payang/cantrang. Di Lamongan dan Tuban sebagaimana disampaikan Agus, paling banyak kapal menggunakan payang kecil.

Pelatihan Fasilitator Pendamping Nelayan

JAKARTA — Divisi Nelayan MPM PP Muhammadiyah melaksanakan Coaching Asisten Teknis bagi para calon Konsultan Pemberdayaan Masyarakat di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (29/4/2017). Calon fasilitator ini berasal dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Jakarta, diantaranya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan (STIEAD), Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA), dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Dijelaskan Wakil Ketua MPM PP Muhammadiyah, H Syahril Syah, kegiatan ini merupakan tahapan dari pra-prencanaan Program Kampung Nelayan Berkemajuan (PKNB). Sebuah role model pemberdayaan yang dikembangkan Divisi Nelayan MPM PP Muhammadiyah untuk pemberdayaan masyarakat di kawasan pesisir melalui pendekatan terintegrasi.

PKNB memiliki tiga tahapan yaitu tahap pertama, masa perencanaan yang didahului studi pendahuluan, pra kondisi, konsolidasi dan pengorganisasian. Tahapan kedua, pelaksanaan yang meliputi mobilisasi sumberdaya, pendampingan, pelatihan termasuk pembiayaan dan konstruksi. Tahap ketiga adalah tahap pelepasan, di mana seluruh program yang sudah diterapkan akan mampu berjalan mandiri oleh masyarakat.