MPM PWM DIY Launching Sekolah Kewirausahaan

SLEMAN — Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (MPM PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dwi Kuswantoro menegaskan generasi muda Muhammadiyah harus memiliki jiwa kepedulian terhadap kewirausahaan sosial. Hal ini dimaksudkan agar pemuda Muhammadiyah dapat menumbuhkan wirausahawan di komunitas masing-masing.

Dwi Kuswantoro mengemukakan hal tersebut pada launching program Sekolah Kewirausahaan Sosial di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman Jalan Magelang Km 10,5, Sawahan Pendowoharjo, Sleman, Kamis (29/12/2016). Launching dihadiri sekitar 100 perwakilan beberapa organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah dan PDM serta PCM se-DIY.

Lebih lanjut Dwi menjelaskan Sekolah Kewirausahaan Sosial ini bukan hanya sebagai institusi formal lembaga pendidikan. Tetapi sekolah ini sebagai wadah aktualisasi dan eksplorasi ide serta gagasan untuk pengembangan jiwa angkatan muda Muhammadiyah yang menjadi siswa di Sekolah Kewirausahaan Sosial.

MPM Inisiasi Pembentukan Sahabat Difabel

YOGYAKARTA — Ketua Pusat Layanan Difabel (PLD) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Arif Maftuhin menandaskan sudah saatnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap kaum difabel. Perubahan cara pandang ini akan mengubah persepsi masyarakat terhadap kaum difabel.

Arif Maftuhin mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara pada Diskusi Komunitas Difabel di Aula PP Muhammadiyah Jl KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, Jumat (9/12/2016). Diskusi yang bertema inisiasi pembentukan komunitas peduli difabel berbasis kampus diikuti 65 mahasiswa. Mereka berasal dari kampus Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang.

Lebih lanjut Arif Maftuhin mengatakan selama ini persepsi masyarakat terhadap kaum difabel adalah mereka kaum yang butuh dikasihani, butuh pertolongan. Padahal tidak seperti itu, kaum difabel tidak butuh dikasihani, tetapi mereka ingin mandiri sesuai dengan kemampuannya.

“Difabel adalah kita, mindset terhadap difabel perlu diubah, Jika kita menganggap diri ini sebagai difabel maka kita akan paham dan mengerti bagaimana keadaaan mereka,” kata Arif Maftuhin di hadapan mahasiswa.

MPM Gelar Peringatan HDI di Banjarmasin

BANJARMASIN — Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Dr M Nurul Yamin menegaskan saat ini masih banyak kaum difabel yang menghadapi banyak kendala dalam relasi sosial. Hal ini disebabkan masih minimnya fasilitas pendukung dan regulasi yang memihak kaum difabel.

Nurul Yamin mengemukakan hal itu pada peringatan Hari Difabel Internasional (HDI) di halaman Balai Kota Banjarmasin, Ahad (4/12/2016). Peringatakan ini digelar MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Selatan dan Pemerintah Kota Banjarmasin serta dihadiri sekitar 400 kaum difabel dari Kota Banjarmasin dan sekitarnya. “Ada tiga ranah konsep Gerakan Kota Ramah Difabel, pertama ramah warganya, ramah fasilitas publiknya, dan ramah kebijakannya,” kata Yamin.

LPPM UMS Latih Okulasi Singkong Kingkong

BOYOLALI — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerjasama dengan Kebun Bibit Desa (KBD) Suharno menggelar pelatihan okulasi (penyambungan) bibit Singkong Kingkong, Ahad (13/11/2016). Pelatihan diikuti 25 peserta dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPM PDM) Kabupaten Sragen, Karanganyar dan Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

“Alhamdulillah hari ini kami LPPM UMS bekerjasama dengan KBD (Kebun Bibit Desa) Suharno telah melakukan pelatihan okulasi (penyambungan) bibit singkong Kingkong,” kata Sekretaris LPPM UMS, Dr Muhtadi di KBD Suharno, Desa Kaligentong, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Ahad (13/11/2016).

Dijelaskan Muhtadi, pelatihannya meliputi pemilihan jenis singkong yang bisa disambung. Bagian bawah menggunakan singkong lokal (Ketan, Genjah, Gatotkaca, dan lain-lain), sedang bagian atas menggunakan batang singkong karet super atau tegak merah.

Evaluasi Pelaksanaan Perda Disabilitas Bantul

BANTUL — Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah satu tahun memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2015 tentang pemenuhan hak bagi penyandang disabilitas. Kamis (10/11/2016), CIQAL bekerjasama dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah (MPM) PP Muhammadiyah dan Independent Legal Aid Institute (ILAI) menggelar diskusi untuk mengevaluasi pelaksanaan Perda tersebut.

Dijelaskan Dr Arni Surwanti MSi, Koordinator Forum Penguatan Hak Penyandang Disabililtas (FPHPD) diskusi ini diselenggarakan di Gedung Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pesertanya, 40 orang yang berasal dari penyandang disabilitas dan organisasi penyandang disabilitas, sekolah luar biasa, sekolah inklusi, dan organisasi kemasyarakatan.

Nara sumber, kata Arni, Ir Heru Pras MT (Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bantul), Drs Totok Sudarto MPd (Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul), Suryatiningsih BL SH (Direktur CIQAL), Dr Arni Surwanti MSi (Koordinator FPHPD), Dr M Nurul Yamin MSi (Ketua MPM PP Muhammadiyah) dan moderator Winarta.

Busyro Muqoddas: Sekolah Kader Bisa Hasilkan Pemimpin

WATES — Ketua PP Muhammadiyah, Dr Busyro Muqoddas menandaskan pendidikan selama Orde Baru tidak menghasilkan pemimpin. Tetapi pendidikan hanya menghasilkan sarjana tukang yang bisa dipesan untuk kepentingan penguasa. Busyro mengungkapkan hal tersebut ketika membuka ‘Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat’ di Wisma Sermo Asri Kokap, Kulonprogo, Jumat (11/11/2016). Sekolah Kader diikuti 63 peserta dari berbagai daerah Indonesia.…

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Budidaya Tanam di Berau

MPM PP MUHAMMADIYAH melakukan pelatihan pembibitan bagi warga Desa Siduung Indah, Batu Rajang, Kecamatan Segah, dan Long Keluh, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, Sabtu-Senin (29-31/10/2016). Sebanyak 194 warga dari tiga desa tersebut sangat antusias mengikuti pelatihan dan mereka merasa mendapatkan ilmu baru.

Dijelaskan Hadi Sutrisno, Asisten Tenaga Ahli, selama ini warga desa tersebut hidup berpindah-pindah dengan siklus waktu tertentu. Rata-rata setiap kepala keluarga (KK) memiliki dua hektare di tahun ini. Setelah lahan tidak menghasilkan mereka akan pindah membuka lahan baru di lain tempat hingga tujuh tempat. Setelah itu, mereka akan kembali lagi ke lahan pertama yang sudah dipenuhi semak-belukar.

Karena itu, dalam pelatihan ini mereka diminta untuk menetap dan menerapkan teknologi yang didampingi MPM PP Muhammadiyah agar bisa menghasilkan pangan yang dibutuhkan dan produk hutan yang bernilai ekonomis. “Kita sampaikan kepada mereka bahwa andaikata masyarakat bisa fokus saja ke lahan yang telah dibuka, kemudian melakukan sedikit perawatan,” kata Hadi.